Resistor pembatas arus LED dihitung dengan hukum Ohm: kurangi tegangan sumber dengan drop tegangan LED, lalu bagi hasilnya dengan arus kerja yang diinginkan. Dari tiga angka itu kamu dapat nilai ohm, dan dari daya yang terbuang kamu dapat ukuran watt resistor yang aman.
Data yang perlu dikumpulkan sebelum menghitung
Tiga angka menentukan hasil akhir. Tanpa salah satunya, perhitungan hanya menebak.
- Tegangan sumber (Vs): 5 V dari USB, 12 V dari adaptor, atau 3,7 V dari baterai lithium. Ukur dengan multimeter bila ragu.
- Drop tegangan LED (Vf): ambil dari datasheet. LED merah dan kuning biasanya sekitar 1,8 sampai 2,2 V, hijau dan biru sekitar 2,8 sampai 3,4 V, LED putih sekitar 3,0 sampai 3,4 V.
- Arus kerja (I): untuk LED indikator kecil, 10 sampai 20 mA sudah cukup terang. Untuk LED daya tinggi, arusnya jauh lebih besar dan biasanya butuh driver khusus, bukan resistor biasa.
Kalau datasheet tidak ada, pakai nilai tengah dan mulai dari arus rendah. LED yang sedikit redup lebih aman daripada LED yang dialiri arus berlebih.
Rumus dan contoh perhitungan
Rumusnya satu baris:
R = (Vs - Vf) / I
Satuan arus harus ampere. Arus 20 mA ditulis 0,02 A.
Contoh: LED merah dengan Vf 2,0 V dipasang pada sumber 5 V, target arus 15 mA.
R = (5 - 2,0) / 0,015
R = 3,0 / 0,015
R = 200 ohm
Nilai 200 ohm jarang dijual. Pilih resistor seri E12 terdekat yang lebih besar, yaitu 220 ohm. Arus aktual menjadi sekitar 13,6 mA, masih dalam rentang aman dan terangnya hampir sama.
Selalu bulatkan ke atas. Membulatkan ke bawah berarti arus naik melewati target.
Beberapa LED dalam satu rangkaian seri
Pada rangkaian seri, drop tegangan bertambah dan arus tetap sama.
R = (Vs - (Vf1 + Vf2 + Vf3)) / I
Tiga LED putih dengan Vf 3,2 V pada sumber 12 V dan arus 20 mA:
R = (12 - 9,6) / 0,02
R = 2,4 / 0,02
R = 120 ohm
Kalau jumlah Vf total mendekati atau melebihi tegangan sumber, rangkaian seri tidak akan menyala. Pecah menjadi beberapa cabang paralel, masing-masing dengan resistor sendiri.
LED paralel butuh resistor sendiri
Dua LED yang diparalel dan berbagi satu resistor bukan ide bagus. Vf tiap LED tidak pernah benar-benar identik, sehingga LED dengan Vf lebih rendah menyerap arus lebih besar dan bisa gagal lebih dulu. Beri satu resistor per LED, lalu hitung masing-masing seperti contoh tunggal di atas.
Menentukan daya resistor
Resistor punya batas daya. Hitung daya yang terbuang dengan rumus:
P = (Vs - Vf) x I
Dari contoh LED merah tadi: P = 3,0 V x 0,0136 A = 0,041 W. Resistor 0,25 W sudah lebih dari cukup.
Pilih resistor dengan rating daya minimal dua kali nilai hitung. Untuk beban yang terus menyala lama di dalam kotak tertutup, ambil tiga kali. Resistor 1/4 W murah dan mudah didapat untuk sebagian besar indikator, tapi rangkaian 12 V dengan beberapa LED paralel bisa menuntut 1/2 W atau lebih.
Memilih nilai dari seri standar
Resistor dijual dalam deret nilai tetap. Untuk keperluan LED, deret E12 sudah memadai: 10, 12, 15, 18, 22, 27, 33, 39, 47, 56, 68, 82, lalu dikali 10, 100, 1k, dan seterusnya.
- Hitung nilai ideal dengan rumus.
- Cari nilai E12 terdekat yang lebih besar dari hasil hitung.
- Hitung ulang arus aktual untuk memastikan masih di bawah batas LED.
- Periksa daya resistor pada arus aktual itu.
Kalau butuh nilai presisi, susun dua resistor seri. Misalnya 200 ohm bisa didekati dengan 180 ohm ditambah 22 ohm.
Kesalahan yang sering terjadi
Beberapa hal kecil membuat hasil melenceng jauh:
- Menulis mA langsung ke rumus tanpa mengubahnya ke ampere. Hasilnya meleset seribu kali.
- Memakai Vf LED biru untuk LED merah. Drop tegangan berbeda, arus jadi jauh lebih besar dari perkiraan.
- Lupa bahwa sumber 12 V dari adaptor bisa naik sedikit saat tanpa beban, sehingga margin arus harus disisakan.
- Memasang resistor di sisi ground atau sisi positif. Secara kelistrikan keduanya sama untuk rangkaian seri sederhana, jadi pilih yang memudahkan tata letak.
- Mengabaikan panas. Resistor yang terasa hangat setelah beberapa menit berarti rating dayanya terlalu mepet.
Kapan resistor bukan pilihan tepat
Resistor bekerja baik untuk arus tetap yang kecil. Pada LED daya tinggi dengan arus ratusan miliampere, resistor membuang terlalu banyak daya sebagai panas dan arusnya ikut berubah saat tegangan sumber naik turun. Untuk keperluan itu, pakai driver arus konstan. Begitu juga pada baterai yang tegangannya turun perlahan, driver menjaga kecerahan lebih stabil daripada resistor.
Untuk indikator panel, lampu status alat, dan proyek mikrokontroler, resistor tetap jadi cara paling murah dan paling cepat.
Ringkasnya: kumpulkan Vs, Vf, dan I, masukkan ke R = (Vs – Vf) / I dengan arus dalam ampere, bulatkan ke nilai E12 di atasnya, lalu pastikan daya resistor minimal dua kali hasil P = (Vs – Vf) x I. Satu resistor per LED, dan tambahkan margin saat sumber tegangan tidak stabil.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa nilai resistor untuk LED 3 V pada sumber 5 V?
Anggap LED putih dengan Vf 3,0 V dan arus target 15 mA. R = (5 – 3,0) / 0,015 = 133 ohm, dibulatkan ke 150 ohm. Arus aktual menjadi sekitar 13 mA. Daya yang terbuang kecil, jadi resistor 1/4 W cukup.
Apakah LED tanpa resistor langsung rusak?
Pada sumber tegangan tetap seperti baterai atau adaptor, arus bisa melonjak melewati batas LED dalam hitungan detik. LED mungkin menyala sebentar lalu mati permanen. Selalu pasang pembatas arus, entah resistor atau driver.
Bisakah satu resistor dipakai untuk banyak LED?
Bisa hanya jika LED disusun seri dan total Vf-nya masih di bawah tegangan sumber. Pada susunan paralel, tiap LED perlu resistor sendiri karena karakteristik tiap LED tidak identik dan pembagian arusnya tidak merata.
More Stories